Rekomendasi Rumah Anti Gempa, Solusi Penyelamat Diri dan Keluarga!

, , Comment closed

Wilayah Indonesia secara geografis berada diatas pertemuan tiga lempeng yakni Australia, Eropa, dan Pasifik. Konsekuensinya yang paling sering dirasakan adalah gempa bumi karena interaksi antar lempeng. Bencana gempa bumi pasti selalu terjadi setiap tahun ini memakan korban jiwa dan menimbulkan kerugian. Tidak jarang pula banyak rumah warga harus roboh akibat gempa bumi berskala kecil hingga dasyat. Salah satu solusi yang dipilih masyarakat adalah membangun rumah anti gempa. Saat ini upaya pembangunan rumah tersebut sudah digalakkan pada berbagai daerah yang rawan gempa bumi.

Ciri-ciri Rumah Anti Gempa

Apabila daerah tempat tinggal Anda rawan gempa dadakan ada baiknya membangun rumah anti gempa. Kenali dahulu ciri-ciri rumah anti gempa dari ulasan berikut ini.

1. Struktur Bangunan Yang Simetris

Rumah yang tahan terhadap guncangan gempa dibangun dengan struktur yang simetris. Maksudnya bentuk bangunan tidak banyak aksen. Perhitungan simetris tiap sudut juga harus tepat agar rumah tidak roboh ataupun bangunan retak ketika permukaan tanah bergoyang.

2. Struktur Pondasi Kuat

Menyoal pondasi bangunan juga harus kuat sehingga mampu menahan beban dalam rumah Faktanya pondasi kuat harus ditanamkan pada kedalaman minimal 60-75 cm. Perlu diperhatikan juga ikatan antar pondasi dengan sloof harus kuat. Anda dapat membuat angkur dari material besi yang berdiameter 12 mm dengan panjang 20-25 cm.

3. Beban Material Rumah Minimal

Umumnya rumah tahan gempa dibangun dengan material bangunan minimal atau sedikit. Tidak perlu terlalu banyak menggunakan material bangunan yang berat karena menambah beban rumah. Jadi, banyak orang lebih memilih material bata ringan, baja ringan, dan semen mortar supaya tidak roboh karena gempa.

4. Bahan Baja Ringan Serta Semen Mortar

Faktanya baja ringan digunakan karena materialnya ringan dan diameter kecil. Terutama penampang genting dan pembuat tiang bangunan harus berdiameter kecil. Adapun manfaat mortar tidak hanya tahan gempa, semen yang satu ini juga tahan api dan panas matahari.

5. Kualitas Tanah Baik

Bangunlah rumah diatas tanah yang ideal dan tahan gempa. Jenis tanah yang dapat dipilih umumnya berstruktur keras, mengandung kerikil berpasir, ataupun pasir tanah liat. Pasalnya, jenis tanah seperti ini tidak akan mengalami perubahan besar dan struktur terlalu bergeser ketika guncangan gempa.

6. Beton Bertulang

Ciri-ciri rumah anti gempa yang dapat diketahui dari bangunan betonnya yang bertulang. Adapun unsur dari beton tersebut adalah campuran kerikil, semen, air, dan pasir halus. Disamping itu, harus dihitung juga jumlah beton berulang yang digunakan, sebaiknya jangan terlalu ramai. Perhatikan detail beton dari massa, dimensi, dan perbandingan dari campuran bahan yang digunakan. Ingat, bahan yang dipakai agar mendirikan beton wajib presisi.

Cara Membangun Rumah Anti Gempa

Ternyata cara membangun rumah anti gempa tidak begitu sulit. Ada beberapa detail yang diperhatikan dan mengadopsi bangunan dari beberapa negara rawan gempa.

1. Tidak Membangun Pada Permukaan Berporus

Rumah anti gempa tidak hanya mempersoalkan teknologi arsitektur yang diaplikasikan. Tetapi juga permukaan bangunan harus kuat ketika menopang massa. Anda dapat memilih permukaan tanah yang tidak begitu porus.

Maksud dari porus adalah mudah menyerap air dan tingkat kepadatannya harus solid. Salah satu bentuk permukaan bangunan porus seperti yang ada di Palu, Sulawesi Tengah. Dampaknya rumah yang dibangun dapat roboh atau mengalami keretakan yang cukup parah ketika terjadi gempa bumi.

2. Rancang Pondasi Ikat

Selanjutnya, ingat terjadinya gempa akan berpengaruh terhadap struktur dasar bangunan yang rusak. Oleh sebab itu, sebaiknya rancang pondasi yang mampu menahan getaran gempa berskala tinggi.

Pertama-tama Anda dapat mengikat seluruh pondasi menjadi satu struktur. Tujuannya agar dapat bergerak menuju kesatuan unit saja. Selanjutnya, terapkan pondasi isolator atau base isolator. Sehingga, bangunan bergeser ketika pergerakan tanah karena gempa terjadi.

Pondasi ikat juga akan menahan struktur bangunan yang ditopangnya tanpa membuat kerusakan atau keretakan. Alhasil, gaya lateral yang timbul dari gempa mampu diredam dan kerusakan sangat diminimalisir.

3. Konstruksi Beton Bertulang

Setelah membuat struktur pondasi solid, rumah bisa saja alami goncangan ketika gempa. Sebab, terpengaruh dari kelenturan material (tingkat daktilitas ) saat menyerap getaran gempa. Kondisi ini akan mempengaruhi keseluruhan struktur bangunan. Apabila material yang dipakai lentur maka membuat konstruksi bangunan lebih stabil.

Idealnya suatu konstruksi bangunan dirakit dengan material beton kerangka bertulang. Pasalnya, tingkat kelenturan terbilang sangat tinggi. Material tersebut juga dibekali dengan komponen bervariasi yang akan membentuk struktur bangunan lebih terintegras.

Kemudian sertakan sistem peredam atau dikenal dalam dunia konstrukis active mass damping. Agar mampu menahan bagian atas dari bangunan tidak ambruk ketika dilanda gempa bumi berskala besar.

4. Aplikasikan Teknologi Konstruksi Jepang

Bukan rahasia lagi Jepang digadang sebagai negara rawan gempa di dunia. Oleh sebab itu, pemerintah Jepang menerapkan prinsip bangunan maupun rumah anti gempa. Dalam hal ini, Anda dapat mengadopsi desain arsitektur bangunan dari Jepang.

Misalnya desain kuil maupun bangunan modernnya yang kebanyakan mengaplikasikan sistem sensor airbag. Umumnya pada tiap rumah warga dan bangunan dilengkapi dengan sensor aktif guna mendeteksi getaran gempa bumi.

Dari sensor inilah kompresor akan aktif dan memompa udara dalam airbag yang ada pada pondasi bangunan. Akibatnya airbag menggelembung dan bangunan rumah menjadi terangkat hingga melayang ke atas permukaan tanah. Sehingga, setiap ruangan dalam bangunan aman dari kerobohan dan keretakan ketika terjadi gempa.

Contoh Rumah Anti Gempa

Berikut ini contoh rumah anti gempa yang paling direkomendasikan, antara lain :

1. Bangunan Rumah Gadang

Rumah Gadang merupakan salah satu rumah adat Provinsi Sumatera Barat. Bangunan rumah gadang sengaja dibuat tahan gempa karena daerah Minangkabau sering mengalami gempa. Dapat dilihat dari tiangnya yang tidak tertancap ke tanah melainkan di atas batu datar yang lebar dan kuat. Apabila terkena gempa konstruksinya tidak akan roboh dan bergerak fleksibel.

2. Rumah Omo Hada

Omo Hada merupakan rumah adat dari Nias. Bangunan tiangnya besar, tinggi, dan dialas rumbia. Setiap kerangka yang disambung tidak menggunakan paku tetapi sistem ikat. Pondasinya juga tidak menancap ke dalam tanah. Ketahanan Omo Hada juga sudah teruji ketika terjadi gempa bumi pada tahun 2010 di Nias.

3. Rumah Teletubbies

Daerah Yogyakarta sudah menerapkan rumah teletubis terutama yang rawan tertimpa gempa. Bangunan ini ada di Desa Nglepen, Prambanan, Sleman sejak tahun 2006. Sangat aman ditinggali terutama bentuk atap rumah kubah yang tahan guncangan gempa.

4. Model Oppidum

Model rumah oppidum ini diterapkan oleh area pedesaa di Republik Ceko. Letak bangunan ini dibawah tanah sehingga tidak tampak dari permukaan. Bahkan dibeberapa wilayah Ceko sudah ada perumahan bawah tanah lebih yang dibagun dalam lahan seluas 98,4504 ribu meter persegi.

Menyoal sistem keamanannya tidak perlu diragukan lagi karena terjamin eksklusif. Selain itu, dilengkapi dengan sensor deteksi, dinding tinggi, serta teknologi pertahanan otomatis. Akses telekomunikasi dengan dunia luar yang disediakan juga sangat kuat sehingga sangat efektif berlindung ketika terjadi bencana.

Membangun rumah anti gempa dapat dikatakan sebagai langkah pencegahan paling tepat. Selain menghindari adanya korban jiwa juga membuat rumah tetap kokoh dan bertahan lama.